√ 99+ Contoh Puisi Alam, Tentang Keindahan, Lingkungan dan Tangisan Alam

Alam hakikatnya adalah pemberian tuhan Yang Maha Agung dan Maha Kuasa, Alam selalu memberikan kita Kebahagiaan, Kerinduan, Kesedihan, dan Keagungan yang bercampur menjadi satu.


99+ Puisi Tema Alam Terbaru dan Terbaik

Puisi Tentang Alam - Alam memberikan kita kehidupan, tempat menuai Padi di Sawah, Tempat Mencari Nafkah selayaknya Nelayan dan Sang penggiat Ladang. Mereka adalah alam yang selalu memberi tanpa meminta.

Lalu apa yang kita berikan kepada Alam, Sampah , Limbah, Penebangan, Pembakaran ?  Apakah itu yang kau berikan. Sungguh durjana wahai engkau yang mengaku Mencintai Alam tapi tak punya rasa kalam.

Semua hal tentang Curhatan Isi hati tentang Alam, tertulis lengkap disebuah Kertas Kayu berwarna Coklat yang Bertuliskan "Ini Puisi Tentang Alam".

Daftar Puisi Tentang Alam Terbaru dan Terbaik di Indonesia

Berikut ini adalah daftar contoh puisi - puisi yang bercerita Tentang Alam, Gunung, Bukit, Lautan, Dataran Tinggi, Awan, Hujan, Kemarau dan masih banyak lagi.

Untuk itu saya buatjuga list atau daftar yang bisa anda manfaatkan untuk mencari puisi sesuai keinginan anda, Klik untuk lompat menuju puisi yang anda cari.
Aku dikelilingi pohon-pohon kapuk
Menutup penghalang diseberang jalan
Daun tak begitu lebat, hanya saja buahnya bergumpal-gumpal
Mataku berbinar melihat buah, walau tak indah
Hanya saja kapas-kapas tersenyum merekah diantara buah

Mataku berbinar, berair, menatap dalam-dalam lalu gelap
Diujung gelap ada cahaya putih, terang, makin terang
kutelusuri jalan menuju cahaya sehingga sampai diujung lorong
Amboi, indahnya !

Ribuan kapas berjejer rapi di ujung jalan
Putih, indah dan elok
Lansung saja aku melompat kedalam hamparan kapas tersebut
Amboi, lembutnya !
Aku berbaring beralaskan kapas-kapas

Mataku berbinar, berair, menatap dalam-dalam lalu gelap
Diujung gelap ada cahaya putih, terang, makin terang
kutelusuri jalan menuju cahaya sehingga sampai diujung lorong
Lalu terbangun, hanya mimpi

Distorsi Bumi Pertiwi

Biar alam yang menjelaskan
Kejamnya pembangunan
Biar bumi bersuara dalam gempa
Kejamnya ulah manusia

Gunung ber-emas diratakan
Laut ber-minyak jadi incaran
Rakusnya elit manusia
Membuat bumi menderita

Kita teringat gunung emas papua
Kita teringat sumur minyak timor
Gunung dikeruk layaknya pusara
Karang dirusak demi pamor

Orangutan hanya berteriak
Melihat hutan dimiliki pengusaha
Komodo tak mampu beranjak
Saat uang memikat penguasa.

Sahdu

Sejuk dan damai
Alam liar yg begitu mega
Gini tingal sejarah
Bahkan burung gerja saja suda tak sudi duduk di sana.....
alamku
Negriku kaya kata nya
Kayu dan batu subur di bumi sana
Namun lagu itu suda puna
Nyata yg gundul dan mengnagah
Bencana suda di mana mana
Peribumi yang binasa
Menagis saat sanak saudra tiada
Alam pun tak mersponya
Alamku....
Kata ya kau paru paru bumiku
Alamku
Tak seraya lagu kebngsan ku
Alamku

Isyarat Alam

Samar² terdengar air memancar.
Pecah mengusik tanah,
membanjiri hari membawa reranting,
rumput kering dan dedaunan gugur, dengan hening.

Dengan kiprahnya angin menolong air,
mempercepat lajunya membasuh bumi,
yg telah luka dilumuri limbah.

Bersama awan terlalu iba,
hingga tak henti²nya menangis,
datanglah petir dengan amarahnya, memancarkan kilaunya menembaki relung kehidupan manusia.

Telah begitu isyarat alam kepada insan, tidakkah jua sadar akan murkanya alam? Sadarlah! Sepatutnya kau hidup,
di atasm bumi yg kau pijak,
hinggap dan menumpang ini!

Merawatnya ialah kewajiban kita!
Tidaklah baik serakah maupun berpura tak salah! Ini kita semua bikin ulah!

Apa kabar pembakar hutan?
Penebang liar?
Penyecer sampah sembarangan?
Pembuang limbah ke sungai dan mengotori aliran?

Sudikah kalian, melihat ini?
Puaskah materi terdapatkan?
Belumkah jera, atas murkanya alam ini? Adakah ikut serta, menanggulangi bencana ini?

Tak hanya keluarga kau!
Semuanya terkena dampak bahana ini, jangan bilang alam durja, jika ini ulah engkau wahai Manusia

Jeritan alam saat kami menangis

Ketika angin enggan berhembus,
Pada siapa ku pinta udara
Ketika lautan mengering,
Dimana hati ini kan berlayar
Ketika sungai sungai bening menghilang,
Dimana lagi melepas dahaga
Ketika langit cerah berubah hitam pekat,
Pada siapa lagi menggantung harapan
Saat gunung tinggi menjadi dataran,
Hutan dan lembah telah berubah gurun,
Kemana kan mengadu nasib

Jutaan cerobong asap hitam mengepul
Menghias bagai lukisan gurita di langit
Daun hijau berguguran di antara batang bergelimpangan,
Derita bersambung bersama tangisan alam
Mengikis harapan berubah tangisan menyayat,
Diantara gelak tawa puas mereka yang di pertuan,
Bersendau gurau di antara remah remah angkara murka,
Impian sederhana itu sudah tiada, saat tangan-tangan serakah merusak,
Mencabik alam, terajam bagai daging cincang

Dimana lagi..
Kemana lagi..
Pada siapa lagi..
Maafkan kami tak mampu menjaga titipan Mu
Hingga Kau mengambil lagi,
Lewat tangan tangan kuat, berselempangkan kekuasaan..

Cakrawala Buana

Terbentang luas alam maya
Meniupkan debu debu kehidupan
Menghempas amarta kasih

Semua tercipta buat di nikmati
Ingin terbang tinggalkan bumi
Mencari makna natural alam raya

Sunyi dengan tarian bintang
Hebusan sepoi semilir banyu kerinduan
Menentramkan jiwa kelana

Semua hanyalah ilusi alam khayal
Semua telah poranda
Tergantikan hembusan AC dan kipas angin
Alam tak lagi mampu memberikan rasa nyaman

Tangisan awan yang membawa kesejukan dan kedamaian dengan nyanyian konser kodok, kini telah tergantikan bingar dentum nada low dari bas dan ritm

Pelangi tak lagi menjadi sabuk katulistiwa karena terpantul rumah kaca

Kini ku mulai rindu nyanyian cengkerik saat matahari mulai menyinari bumi, tergantikan ring tone hand phone

Rindu saat air bah datang
Ada harapan mendapat ikan yang banyak dari tali kail yang terlempar

Kini yang di dapat hanyalah sisa sisa kondom dan jarum suntik, masih untung dapat BH bisa di gunakan untuk penutup rasa malu

Murka Alam

Diserang sambaran cahaya kilat dan ribuan gelegar halilintar yang menyambut silih berganti beriring dengan hantaman derasnya hujan menghujam bumi dan hempaskan sampah berhamburan.

Gelombang pasang sebentar datang untuk menerjang, memporak-porandakan apa yang dilalui dan menghalang, tak akan peduli lagi ratap, jerit dan tangis manusia rakus dan sombong yang kehilangan.

Tangan jahil dan nafsu keserakahan yang membuat alam marah dan berbalik memusuhi, hentikan wahai para manusia perusak keseimbangan sebelum dia murka dan menguburmu untuk selamanya.

Hujan dan Kemarau

Sudah mulai gerimis.
Menyapa tiap tatap yang sadis.
Mengolok-olok hati yang mengemis.
Menemani mata yang sembab menangis.

Sebelum hujan menerpa.
Sebelum luka sembuh juga.
Semesta gelap gulita.
Hati terbelah berjuta-juta kaca.

Alam enggan menyatukan rasa.
Cinta dan sayang tak terbalas jua.
Gerimis mampir menyapu tangis.
Isak tangis menjadi senyum manis.

Dada sudah lapang.
Harap sudah hilang.
Alam kembali terang.
Semesta menang.

Tuan Senja

Seraut wajah tuan senja
Tak peduli ditelan usia
Berjalan sendiri melangkah
Menyusuri kehidupan malam
Hidup bagai di alam misteri
Mencari sebuah arti diri
Bagai burung terbang melayang
Mencari sarang persinggahan
Apa yang kau cari
Akankah berhenti
Kau tuan jalanan
Berteman angin
Hidup di jalan
Mencari harapan kepuasan di jalanan

Terbaring

Kalau aku terbaring sakit seperti ini
suka kubayangkan ada selembar daun tua
kena angin dan lepas dari tangkainya
melayang ke sana kemari tanpa tenaga

Kalau aku terbaring sakit seperti ini
suka kubayangkan kalian nun jauh di bukit sana
berebut menangkap daun yang melayang-layang itu
dan penuh rindu menciumnya berulang kali

Kulihat sekitar ku
Itu adalah alam yang sejuk nan indah
Kupandang ke atas
Itulah langit surga yang pernah kulihat
Anganku yang pertama
Seakan sudah terwujud seusai melihatnya

Ingin terus di gapai
Namun tangan tak sampai
Dimana hanya untuk menyentuhmu saja
Tanganku hanya lah bayangan

Jiwa ini memaksakan kehendaknya
Dan telah mendalam untuk mendapatnya
Tiba tubuh ini terjatuh
Dengan pipi, lutut dan ujung kaki terbentang
Yang menjadi penopangnya

Rasa sakit mulai ada
Segera cepat mata ini terbuka
Yang dilihat sebelumnya
Tak sesuai yang diharap
Karena ini adalah mimpi

Alamku

Rebahkan lah tubuh....
Di tempat tinggi tak berpenghuni
Lupakan sejenak masalah duniamu
Lembut sang awan kan menyambutmu

Bermimpi ku berada .......
Ditempat indah yang tak terjamah
Hanya ada aku dan teman teman ku
Mimpi mimpi tak seperti mimpi

Bercanda dan tertawa
Berbagi apa saja yang ada
Tak terpikir dunia
Tak peduli juga apa yang ada di bawah sana

Bahagia......
Bahagiaku cukup sederhana
Tak terhingga sekalipun hartadan tahta
Tak kan sanggup membayarnya
Pejamkan mata jiwa

Alam indah penghantar tidurku
Memuji karyamu lewat kalimatku
Dengarkan puisi tentang alamku...
Dengarkanlah puisi alamku...

Sajak Alam Nusantara

Sepercik Sinar Mentari
Sebagai Tanda ini Adalah Hari Esok
Pancaran Sinar Bulan
Tanda Akan Sunyinya Alam ini

Ombak dilautan Menyapa ...
Nusantaraku Yang Indah
Paku Yang menancap Di Tanahku
Sebagai Tanda Akan Kekayaan Alamku

Nusantaraku....
Betapa Agungnya Dirimu
Kau Memberi Kami Kehidupan
Tanpa Mengharap Secuil Harapan

Kau Ibarat Pohon Yang Berbuah
Yang Kulempar dengan Batu Krikil
Tapi Kau Memberiku Buah
Buah Yang Memberiku Kehidupan

Alamku Tetaplah Kau yang Kucinta
Kau adalah Ciptaan Terbaik Tuhan
Aku,Kamu,dan Dia .....
Takkan Ku lupa Jasamu
Oh Alam Nusantaraku....

Takku Kenal Alam Nusantaraku

Rumahmu bukan lagi pohon
Bukan itu lagi tempat bermainmu
Tempat bercengkrama habiskan hari dengan keluargamu

Saat ini...
Bukan lagi daun pohon penangmu
Tapi, daun gedung itulah pelindungmu

Alam....
Kenapa dengan alam?
Apa yg terjadi?
Hanya mata tuhan yang tahu itu

Wujud Alam

akan seperti apakah dia?
 Matahari?.....
 Bulan?.....
 Bintang?.....
 Gunung?....

Dahulu aku sering bertanya sendiri
kalau puisi itu wujud Laut?
Bertahun lalu aku temukan puisi memancar mancar dari matamu
masuk ke dalam tubuhku

Seperti yang kau duga pada akhirnya aku tahu puisi tak pernah punya rupa Ia rasa yang menggenang
meluap di jemari kenangan
Kenangan bernama engkau

Sang Mentari.....
Sang Bulan....
Sang Bintang.....
Sang Gunung.....

Lautan Cermin Alam

Kau gunung
megah menjulang tinggi meretas awan
tersenyum sinis bak raja jumawa
lantang menggelegar
menuding seisi jagat raya

Kau gunung
sang penguasa rimba raya
menatap bengis bak sang raja diraja
menghentak menerjang bukitbukit bersahaja

Kau gunung
lihatlah dikakimu terhampar lautan luas
tidakkah ingin kau bercermin?
'Aah aku lupa' lautan cerminmu hanya berupa pelataran
hingga kau tak pernah bisa bercermin

Gunung Batu

Tersimpan sejuta harta dalam perutMu
Membuncit lama hampir ratusan tahun
Membeku diam pada keasingan tangan tak terjamah
Membusuk kusuk dalam letupan asing
Menatap lubang menganga harta, hilang

Merah dan biru adalah kelahiran baru gunung batu-Mu
Namun, meningal bara menganga lara.
Warna pun lahap. tangan penjajah tak sampai jua didapat
Itu lubang batu pada ujung gunung, menjadi kaku pada tataran beku,
membekur pekur pada letupan kejam.

Inikah monster masa kini?
Pohon-pohon pun pergi dan menghilang,
meninggalkan lubang jurang terdalam, hampa pada bentangan masa
Inikah penjajakan alam masa depan? Tetapi terurai masa kini

Apa gerangan lubang luka gunung batu-Mu, menganga membawa malapetaka.

Di Kaki Gunung Arjuna

Di Kaki gunung Arjuna
Bulatan merah beranjak ke singgasana
Manusia juga mulai ramai berkerubut
Namun tak menapak barisan si semut

Semakin berkisah dalam tatapan
Pepohonan yang memulai percakapan
Dan terbukannya gaun sang mawar
Yang terkantuk-kantuk memburu fajar

Di Kaki gunung Arjuna
Diantara asrama-asrama jelata
Bersanding bantalan rel kereta
Ku coba benahi semua

Ku biarkan kertas cap biru
Bersabung deru titahku
Agar suka duka berlalu
Untuk hidup yang baru

Senja di Watu Lumbung

Masih terasa geliat anak-anak teater
mengikuti irama
dan komando sang sutradara.

Di lincak panjang menjelang petang,
kepul asap rokok Mbah Lik melayang terseret angin pantai selatan.
Sebagaimana anganku mengendap di dedaunan jati kering.
Tak sedikitpun ada kelumit niatku untuk berpaling?

Di belahan utara gugusan kabut tersangkut di pinggang Merapi.
Liuk kali Winongo menjadi lintasan kabar.
Yang selalu aku tunggu selepas Ashar.
Entah sebarapa lama kesabaranku menyusur rimbun pepohonan.
Menjadikan misteri dan teka-teki,
bahwa di bebatuan berjajar di lereng-lereng pagar.

Mata hati ini semakin nanar.
Senja di Watulumbung dalam gores puisi pucat pasi.
Dan engkau yang jauh di sana.
Barangkali tak mau mengerti pedihnya perasaan ini.

Hutan

Tempat ditumbuhinya pepohonan yang besar
Tempat ditumbuhinya pepohonan yang rindang
Tempat ditumbuhinya berbagai macam pepohonan dan tumbuhan
Itulah hutan

Memiliki banyak sumber kehidupan
Sungai,air,oksigen,udara
Ada didalamnya
Memiliki banyak kekayaan alam
Engkau menjadi sumber kehidupan manusia
Engkau menjadi sumber kekayaan manusia

Namun,apa yang dilakukan manusia?
Mereka menebang pohon sembarangan tanpa menanamnya lagi
Mereka membakar lahan pepohonan tanpa memikirkan bagaimana bisa hidup tanpa oksigen
Mereka memburu semua binatang yang ada dihutan tanpa izin

Ketika engkau membalas perbuatan mereka
Ketika pepohonan tak lagi bisa menahan air dengan akarnya dan menyebabkan longsor
Ketika udara bertambah panas karena berkurangnya pohon
Ketika bencana banjir terjadi akibat tak ada lagi pohon
Mereka baru menyadari kesalahaanya
Mereka baru menyesali perbuatannya
Tapi,sayang semua sudah terlambat.

Harapan Rumah Kami di Hutan Khatulistiwa

Terlahir di bumi khatulistiwa
Dengan adat dayak kental di darah ku
terusik dengan dunia luar
Hutan yang luas jadi hamparan

Tanah tandus
Pembakaran hutan
Mempersempit rumah kami
Kami anak hutan

Hutan rumah kami
Tempat kami berlindung
Tempat kami mencari makan
Kami yang terdesak di ranah kami

Kami yang terasingkan dari tanah kami
Kami anak hanya ingin ranah kami kembali
Ranah katulistiwa kami berlindung
Harapan kami penghuni hutan khatulistiwa

Mentari Masih Bersinar

Entahlah masih wajah yang poho
Tak ada yang beda
Bagai hutan yang buas
Hanya perlindungan dari Mu
Aku tegar dalam menghadapi

Cinta murni adalah tujuan
Bukan fatamorgana yang menyesatkan
Akupun tidak bersih
Akupun mencari kebenaran yang tersimpan

Diantara buku hitam yang teronggok
Mentari masih bersinar
Harapan masih dapat dilakukan
Walau halang rintang didepan
Bukan masalah bila ku bersama Mu

Walau mereka pakai topeng
Aku akan memakai Mu dihatiku
Biar ku tak berubah lebih kelam
Entahlah ku rasa masih wajah yang sama
Bagai hutan yang buas
Bagiku Engkaulah penyelamatku
Untuk hidupku dihari akhir nanti

Puisiku Alam

Pulau nias pulau yg kucinta
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu

Tiap sudut menyapaku bersahabat
Penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi

Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama Suasana NIAS
Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila

Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilaganmu
Merintih sendiri Ditelan deru kotamu ...
Walau kini kau t'lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati..

Pulau Nan Jauh

Di pulau nan jauh
nanti aku akan hidup
Ber'iringan dengan wujud
bersenandung tuai sukma angan

Di pulau nan jauh
ku tambatkan kini angan
Berpasrah hanya kepada-NYA
sambil memohon tuah doa angan

Di pulau nan jauh
ku tak tahu nanti hidupku
Apakah masih berwujud raga
ataukah diriku hanya tulang bersisa.

Lautku, Hadiah Tuhanku

Lautku....
Tempat pulau - pulau memancang diri
Dengan hamparan biru ibarat permadani
Ombak berdebur menyisir gelombang
Hadiah dari Sang Tuhan

Lautku,
Dalam hempas angin yang menerjang
Diantara riak air yang memercik
Ikan berenang sambil bertasbih penuh syukur
Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan

Lautku,
Terumbu karang menata dirinya
Melukis diantara warna air yang hening
Inilah maha karya sang Pencipta
Yang kau dan aku harus jaga

Senja di Pulau Dewata

Senja, netraku takjub akan rupawan jinggamu yang mempesona.
Remang-remang biasmu yang menyusup menembus seribu pura.
Semburat yang acapkali memanjakan hitam mata sang brahmana.

Resi pun kagum pula, pada rona merah tak berujung di batas cakrawala.
Penat tak letih memuja sang Dewa.
Seribu kata pun tak cukup menelaah butir-butir kehangatan yang amat fana.
Izinkan diriku untuk mendekapmu dalam alunan do’a.
Yang tak terbendung oleh hamba sang pemilik asa.

Walau hanya sepersekian detik, dan pasca itu sirna.
Kecantikan dan ke-elok-anmu akan selalu merekah dalam kelopak mata

Wahai Pulau Dewata.....
Keindahanmu banyak memberikan warna sebuah cerita.
Seperti senja yang memanjakan ribuan mata.

Sajak Nusantara Sejuta Pesona

Terbentang di Bumi Nusantara
Gugusan pulau tajuk Indonesia
Tersebar luas penuh budaya
Dalam semboyan nyata
kau sebut “Bhineka Tunggal Ika”

Inilah negeri sejuta surga
Kaya Budaya, Suku, Bahasa
Terpatri dalam bingkai kebersamaan
Terpaku dalam keramah – tamahan

Inilah negeri sejuta ekspresi
Terpancar indah dalam eloknya seni
Tergores lembut oleh lentik jemari
Mengalun merdu dalam nuansa melodi
Menyatu kalbu dalam sanubari
Inilah negeri sejuta panorama

Gugusan gunung menjulang, mencekram cakrawala
Air mengalir seluas samudra
Raja Ampatnya, Komodonya
Semua bergema seantero dunia

Tatkala kau pijakkan kaki di Bumi Nusantara
Ragam adatnya memukau indera
Ambon, Batak, Jawa, Toraja
Semua menyatu seiring irama
Inilah negeriku INDONESIA!

Berjuta keragaman
Berjuta perbedaan
Sebuah kejayaan sebagai tujuan
Kita menyatu dalam perbedaan

Pantai Selatan

Ombak yg bekejaran
Berlabuh di tepian
Ada pula yang menghantam batu karang
Saling bergantian

Ku duduk di atas karang
Di bawah pohon nan rindang
Di terpa angin daun dan rambut ku pun bergoyang
Lalu ku tertidur di atas kasur karang penuh pemikiran

Dengan mata ku melihat dengn hti ku memikirkannya
Alam itu telatur bukti ada yang mengatur
Ku tapakur ku mengukur ku pun bersukur bahwa negri ku masih subur
Tapa menyepi kur bersukur

Hikayat Pegunungan

Aku sering mendengar keluh-kesah para pengelana
Nyanyian mereka yang parau bergetar kedinginan
Di balik api unggun mereka sering berbicara tentang aku
Aku membawa sejuk di rumahmu setelah angin melewatiku

Mendinginkan suhu harimu saat itu
Mempengaruhi cuaca belahan bumi
Menjadi panas, Menjadi dingin sewaktu aku bekerjasama dengan sang angin
Aku mengalirkan air-air dari mataku
Meredakan dahaga bagi mereka yang di hilir

Menyirami lekuk-lekuk lembah yang berakhir di laut
Kuikhlaskan air di mataku tanpa air mata
Aku tegak berdiri mematok Dunia
menancap berkali lipat lebih dalam dari tinggiku
Mengokohkan gravitasi tempatmu berpijak
Yang menjadikan atas dan bawah dalam aturan semestinya

Karenanya kamu tahu terbang juga jatuh
Aku juga lahan kehidupan
Bagi paru-paru semesta alam
Tumbuh banyak pohon yang menjadi hutan di sini
Nafas bagi mahkluk hidup begitu pun manusia

Aku tempat manusia bertafakur
Tempat bertapa, Tempat menyepi
Aku pun didaki agar mereka melihat keindahan
Melihat keagungan dan melihat keanggunan
Aku tempat untuk hidup
Memenuhi kebutuhan, Untuk bercengkrama dengan alam

Ketika kau menaiki Aku, Kau merasa sampai puncak dan merasa menginjakku
Bila sudah, Mari berbaik-baik sepertiku dan kepadaku
Dan berbaik-baik pada penciptaku dan penciptamu

Indahnya Alam Ciptaanmu Tuhan

Aku dan alam bersemi..
Ku terokai dada dadamu

Alam...
Alangkah sepinya..
Dalam diam..
kau membuatku kaku, menerpa
Suasanamu indah..
Bagai potret lukisan 3 dimensi

aku mendapatkan sesuatu
nan begitu agung
Dijiwaku ada gerak
getar menusuk kalbu
dalam sanubari, ....Cinta

Pena hati tak pernah keliru menulis cerita
Lewat kata, Tulisan..
Mesti atau pun lukisan

Hanya saja . .
Jika boleh kupinjam warnamu
Akan ku gambarkan lukisan hatiku...
secerah jingga seindah senja..

Aku ..
Semadikan jiwaku bersamamu..
Dalam keindahan alam ciptaan tuhan.

Murka Alam (2)

Alam indah menghiasi galaksi
Bagian Rahmat Sang Illahi
Di tujukan khusus para insani
Menjalani hidup menghuni bumi

Insan itu mahluk mulia
Keturunan Adam dan Hawa
Untuk menjalani hidup yang bahagia
Alam menopang senantiasa

Kini insan sudah berubah
Kebanyakan insan penuh serakah
Alam akan menjadi murka
Membuat insan terbinasa

Sebab alam sangat murka
Banyak insan menyekutukan Allah
Atas rayuan iblis yang durhaka
Membuat insan menghalalkan segala cara

Pedoman insan sudah diberi
Untuk menjalankan Qalam Illahi
Selama insan hidup di bumi
Agar menjadi tidak lupa diri

Kini insan menjadi terbiasa
Sebagian warisan orang tua
Berhala juga ikut di sembah
Menganggap diri tidak berdosa

Wahai insan sadarlah diri
Murka alam sangat pedih
Tidak terantisipasi teknologi canggih
Karena itu Rahasia Illahi

Hai insan segeralah taubat
Agar terbuka pintu Rahmat
Lihatlah berbagai macam laknat
Peringatan sebelum kiamat

Murka alam sangat dahsyat
Tidak mengenal waktu dan tempat
Para insan hanya bisa meratap
Tidak tahu apa yang akan di perbuat

Keindahan Alam Indonesia

Saat aku membuka mataku
Ku tak percaya bahwa itu nyata
Aku masih berfikir, Bahwa aku masih bermimpi

Tetapi aku sadar bahwa keindahan itu benar-benar ada di depanku
Sungguh indah kepulauan ini
Ribuan pulau-pulau berjajar membentuk gugusan pulau yang indah

Gunung-gunung berbaris dari ujung barat ke ujung timur
Samudra luas membentang dengan air yang biru
Dan berisi keindahan di bawahnya
Aku bangga menjadi anak Indonesia
Aku berjanji aku akan menjagamu